Saya tidak tahu secara persis apakah Rasulullah pernah mengamalkan membaca surat-surat itu atau tidak, dalam shalat 'Isya' beliau.
Sampai suatu saat ketika saya memutuskan untuk berubah, untuk belajar tentang apa yang pernah diamalkan Rasulullah, atau setidaknya, apa yang pernah beliau sarankan.
Di titik itu lah saya kembali mempelajari kasus Mu'adz, yang dalam meng-imam-i shalat 'Isya' membaca surat yang panjang, sehingga ada makmum yang keluar, lalu shalat sendiri. Orang melaporkan makmum yang keluar ini kepada Mu'adz, lalu Mu'adz bilang bahwa makmum tersebut telah berbuat kemunafikan. Makmum tersebut mengadu kepada Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam tentang peringatan Mu'adz, lalu Rasulullah bersabda kepada Mu'adz:
اتريد ان تكون فتانا يا معاذ؟ إذا أممت الناس فاقرأ ب الشمس و ضحها و سبح اسم ربك الاعلى
و اقرأ باسم ربك و اليل اذا يغشى فانه وراءك الكبير و الضعيف و ذوالحاجة
Aturiidu an takuuna fattaanan yaa Mu'aadz? Idzaa ammamtannaasa faqro' bisysyamsi wa dhukhaaha wa sabbikhisma robbikal a'laa
wa iqro' bismi robbika wallayli idzaa yaghsyaa fa innahu waroo-akal kabiiru wadhdho'iifu wa dzul khaajati.
Wahai Mu'adz, apakah engkau ingin menjadi tukang fitnah? Jika engkau menjadi imam, bacalah surah Asy-Syams (Qs. 91, 15 ayat) dan surah Al-A'laa (Qs. 77, 19 ayat) dan surah Al-'Alaq (Qs. 96, 19 ayat) dan surah Al-Lail (Qs. 92, 21 ayat), karena orang-orang yang menjadi makmum ada yang tua, ada yang lemah, dan ada yang punya keperluan. HR Bukhari, Muslim, dan Nasa'i.
Dari hadits ini, yang pasti, saya putuskan untuk berubah, untuk membaca surat-surat tersebut di shalat 'Isya' saya.
Langkah berikutnya adalah soal pentadabburan sekaligus hafalan dari surat-surat tersebut. Harus muroja'ah lagi supaya ayat-ayat tersebut benar-benar tertanam di dada.
سبحنك اللهم و بحمدك اشهد ان لا اله الا انت استغفرك و اتوب اليك
Tidak ada komentar:
Posting Komentar