Di sebuah kelas bisnis, seorang pebisnis multi-milyuner mengajarkan kiat sukses bisnis dengan cara bercerita. Ceritanya adalah tentang seseorang yang ingin memulai usaha ritel. Dia mulai dengan memilih lokasi, mencari lokasi yang cukup ramai dan banyak pengunjung, melakukan survei dan mempelajari harga sewa dari beberapa opsi yang ada, memperhatikan persediaan atau inventori, meneliti kualitas yang diharapkan di pasar, memilih branding yang tepat, membangun infrastruktur layanan pelanggan yang prima. Dengan cerita itu, para mahasiswa diharapkan memahami bahwa lokasi itu penting, harga juga penting, demikian pula inventori, kualitas, customer service, semua itu penting untuk menjalankan bisnis yang baik.
Di sesi tanya jawab, seorang mahasiswa mengangkat tangannya, bertanya apakah pebisnis itu sehari-harinya memakai sneaker atau boot atau sandal, atau style yang lain?
Seorang mahasiswa lainnya bertanya tentang merk sikat gigi yang dipakai pebisnis itu.
Ada satu lagi yang lain yang bertanya tentang warna kaos kaki.
Sang dosen tamu yang kaya raya ini pun geleng-geleng kepala, tapi dalam hati, karena dia tampak tetap tenang dan kepalanya pun ternyata masih diam tidak bergerak. Dia tak habis pikir, ketika dia mengajarkan tentang proper business practices, bisa-bisanya muncul pertanyaan-pertanyaan yang nyeleneh yang menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang bertanya tadi miss the point entirely.
Melalui cerita people of the cave di Surat Al-Kahfi, Allah ingin mengajarkan pentingnya kita untuk hold on to your faith. Tapi memang sangat possible untuk kita ingin tahu tentang hal-hal yang tidak penting sehingga kita kehilangan pesan penting yang Allah sebenarnya pengin kita fokus di situ.
Begitu juga dengan berbagai islamic studies yang kerap digelar. Tidak sedikit pertanyaan yang muncul tentang bagaimana dengan ibunda Nabi Yusuf, kok tidak diceritakan, siapa nama-nama kakak Nabi Yusuf, kok yang diketahui cuma Yusuf dan Bunyamin, di mana mereka tinggal waktu itu, dan seterusnya, dan sebagainya.
Terhadap cerita ash-habul Kahfi, juga muncul pertanyaan serupa; mengapa anjing, mengapa tidak kucing saja, apa warna atau jenis anjingnya, apakan Dalmatian, anjingnya kecil atau besar ya?
Allah tidak sekedar mengajarkan pengetahuan, tapi dari Surat Al-Kahfi ini kita juga belajar tentang what we need to focus on. Atau, dengan kata lain, not every question is healthy. Allah tidak ingin kita menjadi generasi yang gagal fokus.
Di ayat ke-22 (Quran Surat Al-Kahfi, 18:22), disebutkan bahwa ada yang mengatakan mereka itu tujuh orang, yang ke-8 adalah anjingnya. Maka Allah meminta Muhammad SAW untuk tidak berdebat atau berargumen, juga untuk tidak menanyakan tentangnya. Leave useless conversation.
Allah tidak ingin kita belajar sesuatu yang tidak membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Do not ever indulge, jangan pernah memanjakan diri, jangan pernah terobsesi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting. Semoga Allah bimbing kita untuk mengerti what kind of question to be asked. Semoga kita bisa focus on what Allah says, what Allah teaches us. Dan akhirnya, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.