Mushalla Plasa Cibubur. Maghrib sudah lewat beberapa menit. Kunaiki tangga berjalan dengan berjalan, bukan diam. Lantai paling atas. Melepas alas kaki dengan nyaman, karena bukan sandal mahal. Coba pake yang original branded, shalat bisa ga khusyu' mikirin sandal. Tidak ada pengawas atau petugas penitipan di situ.
Celana sport yang aku pakai menutupi lutut. Tapi tidak sopan rasanya menghadap-Nya seperti itu. Kukeluarkan sarung dari tas Nike-ku. Memakainya setelah wudhu. Bergabung dengan makmum yang lain di belakang imam yang bacaannya merdu dan nyaring. Aku ketinggalan satu raka'at. Posisi imam tidak benar-benar berada di posisi imam yang seharusnya, mepet ke dinding depan. Dia ada di shaf ketiga, sementara puluhan makmumnya berjajar di shaf keempat termasuk aku yang baru datang. Posisiku kira-kira lima meter dari imam, di belakang sebelah kirinya. Ku lepas kacamata, kutaruh di atas tas yang sudah lebih dulu kurebahkan di depan tempat sujudku.
Lepas shalat dan dzikir sejenak, aku sambar tasku, segera keluar mushalla. Suara itu menyambar telingaku secepat aku menyambar tasku. Makmum yang duduk persis di sebelah kananku. Dia menunjuk kacamataku yang masih tergeletak di atas sajadah masjid.
Ini kali kedua hari ini kacamataku tertinggal. Berangkat dari rumah tadi, saat mampir di rumah Toshi di Corn Field, mengembalikan raket badminton yang dipinjam Nadya, baru ngeh aku, ada yang lain. Yang engga biasa. Kuarahkan mobil kembali ke Grass Land mengambil kacamata yang masih santai tergeletak di atas meja kerja.
Kuucapkan terima kasih kepadanya, makmum di sebelah kananku tadi, tanganku menyapu sebagian karpet mushalla sebelum menggenggam kacamata.
Dan kepada Allah, yang belum mengizinkanku berpisah dari kacamataku.
Jumat, 22 Nov 2013, 18:15.