Belajar dan Berubah
Minggu, 15 April 2018
Pelajaran yang Jarang Diajarkan dari Kajian Surat Al-Kahfi
Di sesi tanya jawab, seorang mahasiswa mengangkat tangannya, bertanya apakah pebisnis itu sehari-harinya memakai sneaker atau boot atau sandal, atau style yang lain?
Seorang mahasiswa lainnya bertanya tentang merk sikat gigi yang dipakai pebisnis itu.
Ada satu lagi yang lain yang bertanya tentang warna kaos kaki.
Sang dosen tamu yang kaya raya ini pun geleng-geleng kepala, tapi dalam hati, karena dia tampak tetap tenang dan kepalanya pun ternyata masih diam tidak bergerak. Dia tak habis pikir, ketika dia mengajarkan tentang proper business practices, bisa-bisanya muncul pertanyaan-pertanyaan yang nyeleneh yang menunjukkan bahwa mahasiswa-mahasiswa yang bertanya tadi miss the point entirely.
Melalui cerita people of the cave di Surat Al-Kahfi, Allah ingin mengajarkan pentingnya kita untuk hold on to your faith. Tapi memang sangat possible untuk kita ingin tahu tentang hal-hal yang tidak penting sehingga kita kehilangan pesan penting yang Allah sebenarnya pengin kita fokus di situ.
Begitu juga dengan berbagai islamic studies yang kerap digelar. Tidak sedikit pertanyaan yang muncul tentang bagaimana dengan ibunda Nabi Yusuf, kok tidak diceritakan, siapa nama-nama kakak Nabi Yusuf, kok yang diketahui cuma Yusuf dan Bunyamin, di mana mereka tinggal waktu itu, dan seterusnya, dan sebagainya.
Terhadap cerita ash-habul Kahfi, juga muncul pertanyaan serupa; mengapa anjing, mengapa tidak kucing saja, apa warna atau jenis anjingnya, apakan Dalmatian, anjingnya kecil atau besar ya?
Allah tidak sekedar mengajarkan pengetahuan, tapi dari Surat Al-Kahfi ini kita juga belajar tentang what we need to focus on. Atau, dengan kata lain, not every question is healthy. Allah tidak ingin kita menjadi generasi yang gagal fokus.
Di ayat ke-22 (Quran Surat Al-Kahfi, 18:22), disebutkan bahwa ada yang mengatakan mereka itu tujuh orang, yang ke-8 adalah anjingnya. Maka Allah meminta Muhammad SAW untuk tidak berdebat atau berargumen, juga untuk tidak menanyakan tentangnya. Leave useless conversation.
Allah tidak ingin kita belajar sesuatu yang tidak membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Do not ever indulge, jangan pernah memanjakan diri, jangan pernah terobsesi, dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting. Semoga Allah bimbing kita untuk mengerti what kind of question to be asked. Semoga kita bisa focus on what Allah says, what Allah teaches us. Dan akhirnya, semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
Rabu, 21 Februari 2018
What is the point?
Penguasaan terhadap materi Procurement Academy menjadi lebih kuat dengan membuat ringkasan, terutama untuk orang yang preferensi belajarnya adalah menulis, atau membuat ringkasan.
Padatnya materi untuk dipelajari membuat kadangkala proses meringkas menjadi mekanistis. Dan di suatu titik, "meringkas" berubah menjadi "menulis ulang semuanya".
Ketika situasi ini terjadi, yang dibutuhkan adalah berhenti sejenak, dan bertanya, "What is the point?" Poinnya apa? Kalo tidak ada poin pentingnya, ya lewati aja. Belajar bukan aktivitas basa-basi. Peduli dengan kebutuhan untuk menguasai "poin-poin penting", membuat proses belajar menjadi jauh lebih efektif.
Oh ya, tambahkan bumbu kreativitas secukupnya ke dalam tulisan ringkasanmu, karena hal itu bisa membuatmu semakin excited dan mempertajam penguasaan materi. Misalnya, dengan menggunakan kata-katamu sendiri.
Jumat, 16 Februari 2018
Sikap Tenang
Contoh 1
وَ عِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِينَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَ إِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا (٦٣)
"Adapun hamba-hamba Rabb Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan 'salam'." (QS Al-Furqan: 63)
Contoh 2
وَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلى الله عليه وسلم يَقُولُ: إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلَاةُ، فَلَا تَأْتُوْهَا وَ اَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَ أْتُوْهَا وَ اَنْتُمْ تَمْشُوْنَ، وَ عَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا، وَ مَ فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا. (متفق عليه)
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Jika shalat telah didirikan maka janganlah kalian mendatanginya dengan terburu-buru, tetapi datangilah dengan penuh ketenangan. (Gerakan) apapun yang kalian dapatkan kerjakanlah, dan apa yang (tertinggal) sempurnakanlah (shalat itu)." (Muttafaq 'alaih)
Contoh 3
وَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي الله عنه أَنَّهُ دَفَعَ مَعَ النَّبِيِّ صَلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَرَفَةَ فَسَمِعَ النَّبِيُّ صَلى الله عليه وسلم وَرَاءَهُ زَجْرًا شَدِيدًا وَ ضَرْبًا وَ صَوْتًا لِلْإِبِلِ، فَأَشَارَ بِسَوْطِهِ إِلَيْهِمْ وَ قَالَ:
Singgah di Suatu Tempat
Dari Khaulah binti Hakim RA ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang singgah di suatu tempat kemudian mengucapkan: Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, niscaya tidak akan terkena mudharat oleh sesuatu pun sampai ia pergi dari tempat singgahnya tersebut.'" (HR Muslim)
عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيْمٍ رَضِي الله عنهَا قَلَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَلَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللّٰهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذٰلِكَ. (رواه مسلم)
Merasa Takut Kepada Suatu Kaum
Dari Abu Musa al-Asy'ari RA bahwa Rasulullah SAW apabila merasa takut kepada suatu kaum beliau berdo'a: "Ya Allah, kami menjadikan Engkau sebagai penghalau mereka (dari kami), dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka." (HR Abu Dawud dan an-Nasa-i dengan sanad shahih)
عَنْ أَبِي مُوْسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَافَ قَوْمًا قَالَ:
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَجْعَلكَ فِيْ نُحُوْرِهِمْ، وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهٕمْ.
(رواه أبو داود، و النساءي بإسناد صحيح)
Amal yang Tak Terputus
Dunia adalah ladang amal. Kita bisa manfaatkan sebelum ajal memanggil. Ketika saatnya tiba, kematian yang pasti terjadi, maka kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menambah amalan kita, kecuali tiga hal.
وَ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِي الله عنه أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلى الله عليه و سلم قَالَ:((إِذَا مَاتَ الْاِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ؛ اَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ؛ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ)). (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR Muslim)
Sabtu, 10 Februari 2018
Lima Tingkatan Inisiatif
Pertama, ini tingkatan terendah: tunggu perintah.
Kedua, satu tingkat lebih tinggi: nanya ke bos harus ngapain.
Ketiga: kasih rekomendasi, lalu ambil tindakan.
Keempat: ambil tindakan dan kasih info setiap kali ambil tindakan.
Kelima: level tertinggi, ambil tindakan, ambil tindakan, ambil tindakan, lagi dan lagi, lalu bikin laporan secara berkala.
Naskah asli:
The Anatomy of Managerial Initiative:
1. Wait until told
2. Ask what to do
3. Recommend, then take resulting action
4. Act, but advise at once
5. Act on own, then routinely report (highest initiative)
Dalam "Who's Got the Monkey?"
Oleh William Oncken, Jr., dan Donald L. Wass
William Oncken, Jr., mendirikan perusahaannya sendiri, the William Oncken Corporation, pada tahun 1960 di New York City
Donald L. Wass, Ph.D., adalah Presiden dari the William Oncken Company of Texas saat artikel di atas pertama kali muncul.